Rahajeng nyanggra rahina Galungan lan Kuningan, Dumogi Ida Sang Hyang Widhi ngicen kerahajengan lan kerahayuan ring iraga sareng sami.

  • 17 Februari 2020
  • Dibaca: 267 Pengunjung
Rahajeng nyanggra rahina Galungan lan Kuningan, Dumogi Ida Sang Hyang Widhi ngicen kerahajengan lan kerahayuan ring iraga sareng sami.

Sejarah Hari Raya Galungan berawal dari kisah seorang raja pada jaman dahulu, seorang raja yang sakti mandraguna keturunan raksasa yang memerintah jagat Bali, raja tersebut bernama Raja Mayadenawa. Mayadenawa seorang raja lalim dan kejam, karena kesaktiannya yang tidak terkalahkan menganggap dirinya adalah Dewa yang patut disembah oleh rakyatnya. Kesaktiannya tersebut diperoleh karena keteguhan dan ketekunan imannya memohon kepada Dewa Siwa, agar diberikan kesaktianya dan agar bisa merubah wujud. Hasil dari ketekunan menyembah dan memohon kepada Dewa Siwa, maka dikabulkanlah keinginannya, sehingga Mayadenawa menjadi raksasa sakti yang mampu melakukan perubahan wujud. Kesaktian, kesombongan dan keangkuhannya ini, membuat Mayadenawa bisa menguasai seluruh Bali bahkan meluas sampai ke wilayah lombok, Sumbawa, Bugis dan Blambangan dengan mudah. Raja kejam ini tidak memperbolehkan rakyatnya menyembah Dewa dan menghancurkan pura yang ada, rakyat tidak berani menentang karena kesaktian dan kekejaman raja, semua rakyat akhirnya patuh. Rakyat dihantui rasa ketakutan yang mendalam. Karena sifat raja yang lalim rakyat juga menjadi sengsara.

Tersebutlah seorang pendeta bernama Sangkul Putih atau Mpu Sangkul putih yang juga merupakan Pemangku Agung di Pura Besakih, melihat situasi seperti ini beliau menjadi sedih, pura yang dihancurkan dan kondisi rakyat yang serba ketakutan. Akhirnya sang pendeta melakukan meditasi atau tapa yoga di Pura Besakih untuk memohon petunjuk dari para Dewa. Dalam tapa yoganya beliau mendapat petunjuk dari Dewa Mahadewa agar beliau pergi ke Jambu Dwipa (India) untuk meminta bantuan. Akhirnya bantuan datang dari India dan juga Kahyangan yang dipimpin oleh Dewa Indra untuk memerangi Maya Denawa dan pasukannya, Maya Denawa sudah mengetahui kedatangan tersebut karena memiliki banyak mata-mata, mempersiapkan pasukannya dengan baik, sehingga terjadi perang dahsyat dan banyak yang tewas di kedua belah pihak. Tapi akhirnya pasukan Mayadenawa berlari kocar-kacir meninggalkan medan peperangan. Mengetahui hal ini Mayadenawa merencanakan daya upaya licik untuk menghancurkan pasukan kahyangan. Pada saat jeda perang di malam harinya, karena kesaktiannya bisa merubah wujud, bisa menyusup pasukan dewa Indra dan memberi racun pada sumber air. Agar tidak ketahuan, maka Mayadenawa mengendap-endap berjalan memiringkan kakinya dengan hanya menggunakan sisi kakinya saja, sehingga tempat tersebut dikenal dengan nama Tampak Siring. Pada pagi harinya pasukan kahyangan yang meminum sumber air tersebut keracunan, mengetahui hal ini Dewa Indra dengan kesaktiannya menciptakan sumber air baru yang mampu mengobati dan menyembuhkan pasukan yang keracunan, sehingga mereka semua sembuh sedia kala. Sumber air tersebut sekarang dikenal dengan nama Tirta Empul, sedangkan tempat mengalirnya sungai tersebut dinamakan sungai Pakerisan. Setelah mereka pulih semua, kembali melakukan pengejaran, dalam pelariannya Mayadenawa juga sempat bersembunyi di sebuah gua, sehingga tempat tersebut dinamakan Goa Mayadenawa.

Dalam pelariannya Mayadenawa beberapa kali merubah wujudnya agar tidak dikenali oleh musuh, seperti sempat mengubah wujud menjadi seekor burung besar (Manuk Raya), sehingga tempat tersebut menjadi desa Manukaya, namun dengan kesaktian Dewa Indra semua usaha dari Mayadenawa dengan berubah wujud berkali-kali hanya usaha sia-sia dan akhirnya Mayadenawa, dan akhirnya Dewa Indra mampu membunuh Mayadenawa. Darah yang mengalir dari raja lalim ini menjadi sungai bernama Sungai Petanu, sungai tersebut konon juga dikutuk, jika air sungai tersebut digunakan mengairi sawah, maka padi akan tumbuh dengan cepat, namun akan keluar darah saat panen dan akan mengeluarkan bau. Mungkin kutukan tersebut sekarang sudah berakhir karena berlaku hanya dalam 1000 tahun. Dan kemenangan Dewa Indra melawan Mayadenawa inilah disimbolkan sebagai kemenangan kebaikan melawan kejahatan yang diperingati sebagai Hari Raya Galungan. Dari sinilah sejarah hari raya Gulungan tersebut yang diturunkan dari generasi ke generasi sampai sekarang ini. Saat perayaan ini juga ada tradisi memenjor atau membuat penjor. Penjor menggunakan bambu melengkung yang melambangkan gunung tertinggi tempat stana Dewa, dihiasi oleh hasil bumi atau pertanian untuk mengingatkan kita bahwa hasil bumi tersebut berasal dari Tuhan, dan secara utuh berarti ucapan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa atas segala kemakmuran yang telah dilimpahkan. Rahajeng nyanggra rahina Galungan lan Kuningan, Dumogi Ida Sang Hyang Widhi ngicen kerahajengan lan kerahayuan ring iraga sareng sami.

 

  • 17 Februari 2020
  • Dibaca: 267 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita